DELUSI KESALAHAN TEKNIS
Delapan tahun yg lalu mantan pegawai perusahaan yahoo bernama Acton dan Koum melakukan riset dan pengembangan utk sebuah proyek aplikasi smartphone yg sekarang menjadi "aplikasi wajib" di seluruh telepon pintar di dunia. Acton membuat aplikasi yg kita kenal dgn Whats App tersebut menggunakan rancangan sistem aplikasi dgn fungsi yg hampir sama dgn SMS yg umum ada di semua ponsel. Yg berbeda Aplikasi ini tidak menggunakan bea pulsa sebagai pengganti layanan jasanya melainkan sambungan internet. Banyak fitur yg ditawarkan pd aplikasi yg mudah kita dapat di berbagai macam platform ini. Seperti grup chatting, sisipan gambar, dan yg terbaru ini adl fitur status post yg kata beberapa org meniru fitur yg dibuat Instagram. Meskipun banyak org mengatakan "menjiplak" dan beberapa org menganggap fitur2nya kurang up todate bukan berarti itu tanpa usaha yg "mremeng". Acton bahkan sempat memutuskan utk keluar dari proyek yg dirancangnya sendiri. Dan saya yakin Acton bukan tanpa alasan meninggalkan proyek besarnya itu. Baik itu "Alasan teknis" maupun non teknis mestinya bisa dipahami jika kemampuan setiap orang berbeda beda dan memiliki keterbatasan dlm mengelola kemampuannya. Apalagi kendala itu muncul sebab "hasil ciptaan" yg dibuat memang pada tahap yg tidak dapat terkontrol oleh akal. Namun pd akhirnya Acton kembali bergabung untuk menyelesaikan proyeknya itu hingga pada tahap yg dapat dikatakan hampir sempurna, hingga akhirnya perusahaan media sosial terbesar se jagad yg di pelopori oleh zuckerberg menyempurnakan proyek Acton dan kawan-kawannya itu dgn meminang dan menjadikan anak perusahaan facebook dibawah manajemen salah satu pemuda terkaya di dunia itu. Sekilas sejarah dan kisah sukses itu setidaknya bisa kita ambil poin penting untuk bisa menghargai karya org lain. Jauh lebih dalam jika kita "benar2 memahami" fungsi dr fitur2 karya Acton cs tsb, sebenarnya banyak yang dapat kita jadikan poin penting dalam menyikapi attitude dalam ber media sosial. Namun saya hanya ingin berbicara mengenai menyikapi "kesalahan teknis" yg terjadi tidak hanya pada Aplikasi Whats App saja dan mungkin hampir semua aplikasi serupa bisa mengalaminya. dan disini "kesalahan teknis" saya jabarkan sebagai sebuah kesalahan yg terjadi akibat kekurangan yg melekat pada hasil ciptaan manusia. Jika kita pernah melakukan perbandingan "head to head" aplikasi satu dgn aplikasi lain yg serupa pastilah kita akan menemukan kekurangan diantara keduanya. Karena pd hakekatnya ciptaan manusia itu pasti memiliki kekurangan. Contoh saja di Black Berry Messenger (BBM) jika kita melakukan penonaktifan aplikasi (un install) dan melakukan pengaktifan kembali aplikasi tsb dgn menginstall ulangnya maka secara otomotis grup-grup yg telah ada tidak akan ikut terhapus krn tersimpan dlm sistem akun, berbeda dgn Whats App yg tidak memiliki sistem akun yg dapat menyimpan otomatis grup yg telah ada. Namun banyak org yg tetap memilih WA sbg prioritas aplikasi di smartphone nya. Selain karena sedikit memakan kapasitas memori, aplikasi WA jg lebih variatif dalam penggunaan karakter2 di fitur chatingnya. Dan masih banyak lagi kekurangan dan kelebihan yg mungkin org2 dengan disiplin ilmu IT lebih layak menyebutkannya. Bahkan sebenarnya jika kita membandingkan antar versi dgn aplikasi yg sama juga sudah dapat di lihat perbedaan yg signifikan. Yg sangat saya sayangkan kebanyakan org hanya suka memakai aplikasi2 tersebut tanpa "memahami" fungsi, kekurangan dan kelebihan. sehingga "kekurangan" yg muncul dianggap sbg "human error" atau kesalahan manusia atau bahkan sengaja dibuat buat untuk mengabaikan lingkungan/subjek yg kita ajak berinteraksi. Dari sinilah di dalam interaksi di media sosial kita bisa membedakan individu yg "mengerti" dan "memahami. Dan saya lebih suka mengartikan "mengerti" sbg menerima informasi dgn pandangan pribadi, sedangkan "memahami" merupakan menerima informasi dgn pandangan pribadi namun tetap memperhatikan pandangan orang lain meskipun dua kata tersebut memiliki arti harfiah yg sama. sebenarnya tugas sbg pengguna media sosial tidak sesulit spt para pakar pengembangnya yg harus melakukan riset dan pengembangan setiap waktu demi hasil dan kualitas layanan yg baik. Kita hanya cukup dituntut untuk "menggunakannya dgn bijak" dan itu hanya bisa diperoleh jika kita benar2 melakukan proses pemahaman.
#bijakbermediasosial
#bijakbermediasosial

Tidak ada komentar:
Posting Komentar