Selasa, 01 Agustus 2017
KENALI TUJUAN BELAJAR
Dalam beberapa literatur, tokoh2 pendidikan mendefinisikan belajar sebagai dua proses yg tak terpisahkan yaitu transfer of knowledge (transfer pengetahuan) dan transfer of value (transfer nilai2 moral). yg lebih saya perhatikan adalah awal kalimat dari hampir semua definisi yg ada yaitu "upaya sadar". mengapa demikian, sebab saya tahu bahwa semua perilaku yg butuh pertanggung jawaban adl perilaku yg dilakukan scr sadar oleh manusia. lantas bagaimana dengan media sosial yg bagi sebagian org dianggap sbg media belajar?. disinilah terjadi dikotomi antara warga belajar formal dan warga belajar informal. dapat dikatakan semua pebelajar yg mengikuti program pendidikan yg terstruktur dan tersistem (sd, smp, sma dll) maupun yg tidak (kursus, pelatihan , kejar paket dll) termasuk dlm warga belajar formal. dan org2 yg belajar tanpa melalui program pendidikan yg jelas (otodidak, belajar dr internet dll) bisa kita klasifikasikan kedalam warga belajar informal. yg ingin saya bahas bukan proses cara mendapatkan ilmu nya (transfer of knowledge) melainkan bagaimana aspek moral yg mereka peroleh (transfer of value) melalui cara belajar mereka.
Dari segi tujuan warga belajar formal lebih memiliki tujuan yg jelas mengapa mereka melakukan kegiatan belajar. Yang umum mungkin adalah untuk memperoleh pengakuan skill (keahlian) yg dibuktikan dgn sertifikat atau ijazah dan lebih lanjut dipergunakan sbg syarat mendapatkan pekerjaan yg di Inginkan. Selain itu bagi sebagian pebelajar kegiatan belajar merupakan cara mendalami bidang yang mereka "gandrungi" lebih jauh lagi. Yang kemudian disebut dgn "disiplin ilmu" dan ini berlaku bagi mereka yg memiliki kecenderungan terhadap hal-hal yg berbau scientific. Dua tipe ini saja jika kita lihat dalam aspek moral yg diperolehnya pun sudah sangat berbeda. Namun pada dasarnya semua warga belajar formal memiliki kekuatan yg sama yaitu mampu bertahan dalam berbagai tekanan serta lebih bertanggung jawab atas apa yg mereka kerjakan. Sebab dalam semua program pendidikan apapun pasti yg lebih ditekankan adl kemampuan melaksanakan perintah/tugas yg diberikan oleh pendidik.
Sedangkan warga belajar informal dlm segi tujuan kurang memiliki tujuan yg jelas. Pada umumnya mereka kegiatan belajar merupakan sarana mencari tahu hal2 yg belum mereka ketahui atau hal2 yg ingin mereka ketahui. Ada jg yg bertujuan agar kemapuannya diakui oleh org lain atau untuk membantu orang lain. Bahkan sebagian ada yg bertujuan hanya utk mengisi waktu luang saja atau kalau org nyeletuk "buat iseng2 aja". Dibalik itu semua warga belajar informal memiliki kekuatan yg hebat yaitu lebih bersifat dinamis dan fleksibel sehingga mampu beradaptasi pada sgala macam kondisi dan lingkungan yg berbeda. Namun dalam segi nilai moral yg diperoleh masih kurang. Namun bukan berarti warga belajar informal tidak memiliki nilai moral yg baik. Akan tetapi dikarenakan tidak adanya "figur pendidik" yg jelas membuat warga belajar informal sulit dalam melakulan filter knowledge (penyaringan informasi/pengetahuan) yg mereka peroleh sehingga dalam menerima pengetahuan mereka cenderung memaksakan menampung semua yg mereka dapatkan.
Perbedaan kedua warga belajar tersebut jg akan tampak nyata dalam cara berinteraksi/bersosialisasi dgn org lain.
Sebagi contoh dlm penggunaan media sosial warga belajar formal akan lebih bijak dalam menggunakannya sebab warga belajar formal memiliki "figur pendidik" yg jg berfungsi sbg motivator bagi mereka untuk selalu bersikap bijak dan mengedepankan attitude. Warga belajar informal jg memiliki "figur pendidik" yg jg sbg motivator mereka yaitu keluarga namun keberadaan keluarga sbg pendidik tidak dpt dijadikan sbg sumber belajar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yg diinginkan warga belajar. Mereka mencari sumber belajar lain yg lebih menyenangkan bagi mereka spt teman mereka, dari internet, atau yg lainnya. Sehingga transfer of value yg mereka dapatkan ya diperoleh dr sumber2 belajar itu yg belum jelas apakah itu nilai yg positif atau tidak. Mungkin saja mereka dapat melakukan hal2 yg dapat menimbulkan konflik ketika mereka berinteraksi di media sosial seperti melakukan ujaran kebencian, melakukan profokasi isu2 SARA dll. Sebab mungkin saja nilai yg mereka peroleh mengajarkan hal2 spt itu adalah "its fine". Namun perlu dicatat, tidak semua warga belajar informal di diskreditkan spt itu. Warga belajar informal pada hakekatnya sama seperti warga belajar formal jika mereka benar2 melakukan "upaya sadar" dalam kegiatan transfer of knowledge mereka.
Sedikit menyinggung mengenai tujuan kegiatan belajar "cuma ingin tahu", "cuma iseng aja" dll apakah semua itu "upaya sadar"?. Sejauh pengetahuan saya beberapa orang yg memiliki tagar #iseng dalam akun media sosialnya, sebenarnya mereka melakukan hal2 yg masih dapat dikendalikan oleh akal (definisi sadar menurut saya). Sehingga dapat saya katakan org yg memiliki tujuan belajar "cuma buat iseng" mereka melakukan apa yg dinamakan "upaya sadar". Namun menurut saya or yg memiliki tujuan spt itu belum dapat dikatakan sbg "belajar" sebab lebih dalam lagi "belajar" terdapat aspek perubahan perilaku.
Dan sperti biasa ini bukan kajian studi yg perlu untuk ditindak lanjuti. Melainkan opini warga belajar yg sedang belajar mengenali tujuan belajarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar