Selasa, 01 Agustus 2017


HILANGNYA SEBUAH MOMENTUM
banyak yg mengetahui sejarah Herman William Daendles mengenai proyek besarnya yg kita anggap sbg "proyek ketidakmanusiawian" yg berwujud jalan yg menghubungkan kota-kota di pulau Jawa dari Anyer-panarukan yang memakan waktu beberapa tahun serta menjadikan ribuan rakyat sbg "tumbal" proyek sang jendral itu. Dan sekarang jalan itu ada dan menjadi salah satu bagian yg tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia, di jawa khususnya. Singkat cerita, sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap masalah perhubungan maka banyak alternatif yg dibuat pemerintah yg beberapa org menyepakati sbg "solusi tepat". Terlepas dari solusi masalah perhubungan itu sejenak kita tengok sejarah. Saya meyakini bahwa daendles membuat proyek luar biasa tsb tentulah ada latar belakang "ekonomi" dibalik sebutannya sbg "jalan raya pos" yg tentu kita kaitkan dgn masalah komunikasi. Saya yakin semua org jg tau karna memang kedatangan belanda ke Indonesia semata-mata ingin menguasai segala macam bentuk sektor ekonomi di Indonesia waktu itu. Namun bukan itu yg saya maksudkan. Seorang jenderal spt daendles mana mungkin membuat proyek besar tanpa rencana jangka panjang. Sebut saja cirebon kota udang, pekalongan kota batik, dan lainnya itu sudah menggambarkan kekuatan ekonomi daerah bukan?. Ini hal yg umum yg Seharusnya semua org tahu. Industri sbg salah satu sektor ekonomi yang berpengaruh tampaknya sekarang sangat cocok jika kita kaitkan dgn tujuan daendles membuat proyek jalan tsb. Yg menjadi masalah skrg adl ketika pemerintah menyepakati solusi membuat proyek tandingan daendles yg memakan dana triliyunan rupiah yg tujuannya adl mempersingkat waktu tempuh ketika melalui pulau jawa. Saya percaya pemerintah tdk bermaksud melupakan sejarah panjang "Jalur daendles" tsb. Saya sangat setuju bila solusi pemerintah dgn membuat jalan tol trans jawa itu sangat membantu masyarakat dalam hal mempersingkat waktu perjalanan dan memperlancar perhubungan di pulau Jawa. Terlebih saat arus mudik lebaran itu akan sangat terasa. Namun saya tdk akan memperpanjang mengulas semua kebijakan pemerintah itu. Yang sangat saya sayangkan adl ketika semua itu berimbas pd tradisi masyarakat untuk sekedar singgah/beristirahat atau bahkan mencari oleh2 khas di kota2 yg mereka lalui saat mudik lebaran dan setidaknya mereka/anak2 mereka tahu bahwa kota2 itu memang benar menjadi penghasil berbagai macam produk dan bukan hanya "katanya", dan saya merasakan "Hilangnya momentum" itu meski jalur tol itu belum benar2 difungsikan sebagaimana mestinya. Bukan berarti saya pesimis dan tidak mendukung upaya pemerintah dlm pembangunan infrastruktur di daerah. Namun adakalanya pembangunan di daerah diberikan antisipasi masalah yg akan timbul layaknya AMDAL yg kita ketahui sebelum membuat sebuah mega proyek. Namun semua kembali pada usaha kita masing2, ingin berkembang ya ikuti arus pembangunan dan jika ingin bertahan ya gunakan cara2 yg relevan. Ini bukan merupakan sebuah analisis ilmiah melainkan "menduga-duga" apa yg dialami dan dirasakan para pedagang dadakan saat mudik lebaran di pinggir jalan pantura yg banyak saya lihat di bulan puasa tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar